Part 1
ZRAASSSHH!!!!
titik - titik air hujan membasahi muka imutku (mmm) kubuka perlahan kedua belah mataku ini. Hanya kegelapan yang dapat kutangkap.
Dimana aku? aku terduduk dalam keadaan basah kuyup. Di sekitarku, tumbuh pohon - pohon yang menjulang tinggi dan semak - semak yang basah karena air hujan. Aku menggigil kedinginan sambil berusaha bangkit. Kenapa aku bisa berada disini?
" Halo!" teriakku sambil berjalan. " Apa ada orang disini?" hanya rintikan air hujan dan suara yang kecipak dari telapak kakiku yang menginjak genangan air juga dahan - dahan pohon yang bergoyang akibat angin kencang bawaan hujan yang terdengar. Semakin lama, aku semakin tidak tahan berada disini. Hawanya dingin dan suasanannya sangat... mencekam.
" Hoooiii.. Ops," nafasku seketika memburu. Aku langsung terduduk menjauh dengan mata terbelalak, sumpah shock berat! nyaris saja jantungku copot!
Sebuah jurang yang tidak terlalu lebar tapi kemungkinan sama dalamnya kayak jurang yang besar terbentang dihadapanku. Dan kalau saja tadi aku tidak mengamati langkah kakiku, mungkin aku sudah terjun bebas kedalamnya. Terima kasih ya Tuhan...
Setelah keterkejutanku agak pulih, aku merangkak menuju jurang tadi lalu melongok kebawah dengan nyali udah ciuuuuutttt banget. Deg - degan sumpah. Lagipula, udah jurangnya gelap, terus tempat tak dikenal ini pun juga sama gelapnya -.- sinar bulan juga lagi ketutup awan. Sial, nggak bisa liat apa - apa nih!
Samar - samar, ditengah derasnya hujan, mataku menangkap siluet seorang wanita dengan memakai yukata ( pakaian adat dari Jepun ) berwarna merah kebesaran dan rambut yang berantakan yang hampir menutupi seluruh bagian mukanya di seberang tempatku. Heran, darimana dia datang? apa aku masih di Indonesia? tapi kok bisa ada orang pake yukata kayak gitu disini? walaupun hujan dan tempatku yang agak berjauhan dengannya, aku bisa melihat dengan jelas kalau dia daritadi terus menunduk sambil mulutnya komat - kamit.
" Siapa disitu?" tanyaku, berusaha mengalahkan suara deru hujan.
Wanita tersebut hanya menggeleng - geleng sambil tetap berkomat - kamit tanpa menggubris ucapanku. Aku sampai kesal dibuatnya. " Hei! aku sedang berbicara denganmu bodoh!" gertakku. Dan wanita itu tetap menggeleng - gelengkan kepalanya sambil berkomat - kamit.
" Kamu nggak punya mulut ya?" kali ini mulutnya berhneti berkomat - kamit dan perlahan kepalanya mendongak menatapku dengan rambut berantakannya yang kali ini sudah tersibak kesamping memperlihatkan muka aslinya. Dan aku langsung dibuatnya terperangah. Itu ibuku! iya, wajahnya dan postur badannya sama persis dengan ibuku. Hanya tampilannya saja yang berbeda. Ibu yang biasanya tampil sederhana dan cantik kini terlihat seperti gadis pedalaman norak tak tahu aturan.
" IBU!!!" panggilku dengan raut bahagia. Akhirnya, ada orang lain selain aku disini. Bahkan itu ibuku. Tapi, ibuku tetap saja tidak menggubris. Tatapannya kosong dan mulutnya menganga. Setetes darah mengalir dari yang menganga tersebut dan tak kusangka pula tiba - tiba saja wanita yang aku anggap ibuku itu tiba - tiba melompat masuk kedalam jurang sambil tertawa - tawa menyeramkan. Yukata merahnya merumbai dan sabuknya terlepas terbawa angin.
Sontak aku langsung menjerti ngeri. Kulonggokkan kepalaku kedalam jurang tersebut sambil terus menatap sosok tubuh tersebut terjun bebas diiringi suara tawa bersahutan yang perlahan mulai lenyap ditelan kegelapan. Sambil menangis, mulutku tanpa henti meneriaki namanya, berharap dia kembali. Sayang, tidak ada lagi sahutan kecuali air hujan yang terdengar seperti suara tangisan, menambah suasana mencekam.
Aku merangkak mundur dari mulut jurang lalu mendekap lututku sambil menggeretakkan gigiku. Dingin sekali. Aku kembali menatao ke sekelilingku. Sebenarnya ada dimana aku? apa yang terjadi sehingga aku bisa nyasar sampai ke tempat seram seperti ini?
JEGERRRRR!!!!! sebuah kilat menyambar dan disusul suara KRETEEKK yang sangat keras. Aku langsung menjerit dan berusaha menjauh ke semak - semak di sebelah kananku. Sebatang pohon yang berdiri tegak di dekatku tadi roboh dikarenakan sambaran kilat tadi, dan jika aku tidak sempat menjauh, mungkin aku sudah mati sekarang. Dalam kondisi mengenaskan tertima batang pohon. Tragis. *jangan dibayangin
Di salah satu dahan pohon roboh yang paling dekat dengan tempatku saat ini, aku melihat benda yang aneh yang diiikat disitu. Aku tertegun lalu segera mendekati. Awalnya aku pikir itu boneka. Ternyata itu manusia. Benar, itu manusia. Pertama, aku santai saja ngelihatnya. Bahkan aku malah berani menyentuhnya. Tapi setelah melihat ikatan tali di lehernya yang bersambung dengan ikatan di dahan diatas kepalanya, juga mukanya tersayat - sayat dengan darah yang sudah mengering juga mata yang terbelalak, aku menjauhkan tanganku dari tubuh tersebut. Dan ketika kulihat dahan lainnya, aku melihat pemandangan yang sama. Semua dahan di batang pohon yang roboh ini terdapat tubuh - tubuh yang sudah membusuk dengan tali yang menggantung lehernya. Tidak cuma pohon ini saja, ketika kudongakkan kepalaku ke langit, bisa kulihat tubuh - tubuh manusia yang tergantung terayun -ayun di pohon yang lain. Jumlahnya ratusan. Aku menjerit semakin ngeri lalu berlari menjauh.
Belum lebih dari 5 langkah, kepalaku menubruk sesuatu. Aku pikir aku sedang berhadapan dengan pohon. Sayang, aku salah tebak. Tepat di hadapanku, seorang wanita dengan baju serba hitam dan memakai tudung yang juga hitam berdiri. Di kepalanya terdapat rantai besi yang sudah berkarat dan bunga kamboja yang masih segar. Dua gagak hitam legam bertengger dengan berisiknya di kedua bahunya dan tangannya terlihat menggenggam sebuah belati dengan ganggang berwarna merah bermotif mawar.
" Hei, apa yang akan kau lakukan dengan belati itu?" ujarku sambil mundur. Dia tidak menjawab. Dia tiba - tiba mengacungkan belatinya kearahku lalu berlari mendekati. Aku menjerit lagi lalu berlari melawan arah. Terjadilah kejar - kejaran maut. Mati - matian aku berlari dan kembali menjerit ketika aku meloncati pohon roboh tadi. Takut tiba - tiba nginjek salah satu mayat disitu.
Dan, aku pun tiba tiba teringat kalau ada jurang tak jauh dari situ. Karena kecerobohanku, aku tersandung batu dan langsung terjun bebas kedalam jurang. Aku menjerit berusaha menggapai apa yang bisa kugapai dengan tanganku agar tidak lanjut terjun ke dasar jurang. Sayang, hanya tanah yang bisa kugapai di dinding - dinding jurang. Dan aku pun akhirnya tenggelam dalam kegelapan..
_______________________________________________________________
" Len," kubuka mataku pelan. Sesosok perempuan duduk di hadapanku dengan muka panik. "Kamu nggak apa - apa nak?" ah, ternyata ibuku. Wait, ibu?? ini dimana?
" Ibu..."
" Ya nak?"
" Ada apa?"
" Kamu tadi ngigau. Tidur teriak - teriak nggak jelas,"
" Hmmm... jadi tadi itu cuman mimpi?"
" Tadi apa?" aku mengerjap - ngerjapkan mataku sambil menatap mukanya. Ibu terlihat kebingungan dengan ucapanku.
" Ngak. Lupakan saja," jawabku sambil mengangkat kedua lenganku tinggi - tinggi sambil menguap. Bajuku basah karena keringat dingin yang mengalir seiring alur mimpi seramku tadi. " Sudah pukul enam, aku mandi dulu bu,"
BERSAMBUNG........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar